Sisi Lain


Rantis Di Derbi Jatim, Masih Perlu?

16 August 2019   11:00:01
Rantis Di Derbi Jatim, Masih Perlu?

SHOPEE LIGA 1 2019 AREMA FC PERSEBAYA

Oleh: Hanif Marjuni
(Media and Public Relation LIB)

MALANG - Pengamanan akan menggunakan kendaraan taktis alias rantis. Itu salah satu yang menjadi perhatian utama di tajuk beragam media jelang pertandingan Derbi Jawa Timur antara Arema FC kontra Persebaya Surabaya.

Fokus pemberitaan itu memang tak salah. Malah, logis. Patut diketahui, tidak semua pertandingan yang melibatkan tim-tim besar di Shopee Liga 1 2019 selalu menyediakan rantis dalam proses pengamanannya. Hanya beberapa pertandingan yang dianggap rawan saja. Salah satunya, ya laga Arema FC versus Persebaya tersebut.

Ulasan beragam media itu pun terbilang akurat. Pada Kamis (15/8), panitia pelaksana (panpel) Arema FC yang bekerja sama dengan Polres Malang, menyediakan empat mobil rantis. Mobil itu dipersiapkan untuk antar-jemput pemain dan ofisial Persebaya. Tepatnya digunakan untuk perjalanan pergi-pulang dari penginapan ke Stadion Kanjuruhan.

Pertanyaannya, apakah dengan mengendarai mobil rantis itu rombongan Persebaya dijamin aman dari teror pendukung tim lawan? Apakah dengan mengendarai rantis digaransikan tidak akan muncul intimidasi dari pihak lain yang membuat rombongan Bajul Ijo terganggu?

Saat yang ditunggu pun tiba. Kamis siang pukul 12.40 WIB, rombongan Persebaya berangkat ke stadion dengan mengendarai mobil rantis.

Harus diakui, tim polisi setempat telah melakukan cara pengamanan perjalanan Bajul Ijo tersebut, bak tamu penting. Sesuai dengan SOP-nya selama ini. Bayangkan, di depan empat mobil rantis, ada beberapa motor polisi pengawal lengkap dengan persenjataannya. Lalu, perjalanan diawali atau dibuka dengan satu mobil patroli. Lengkap dengan sirenenya yang menyala sepanjang jalan. Perjalanan pun lancar. Tak ada kendala berarti.

Tapi, tunggu dulu. Poin pentingnya bukan itu. Tapi lebih ke respon dari publik atau pendukung Singo Edan. Selama perjalanan dari hotel menuju pintu masuk stadion, tak ada aksi pelemparan atau bentuk intimidasi yang lain. Begitu pula saat memasuki pintu area stadion hingga semua rombongan Persebaya turun dari rantis dan masuk ke dalam stadion. Semua berjalan normal seperti biasa.

“Tidak ada gangguan seperti yang ditakutkan selama ini. Alhamdulillah, semuanya berjalan mulus. Perjalanan Persebaya menuju stadion, masuk kategori aman,” bilang salah satu petugas kepolisian.

“Kami senang dengan fakta yang baru saja terjadi. Berharap semua pertandingan Shopee Liga 1 2019 bisa kondusif. Iklimnya bisa seperti ini dan tak tak perlu rantis lagi,” tambah Adi Nugroho, security officer PSSI yang kebetulan bertugas di laga derbi Jatim.

Panas di Medsos
Sehari sebelum pertandingan, sempat muncul isu rombongan Persebaya akan mengendarai bus menuju stadion. Tidak lagi menggunakan rantis.

Entah apa penyebabnya, isu tersebut gagal terwujud. Rombongan Persebaya tetap mengendarai rantis untuk menuju stadion. Begitu pula saat kembali ke tempat penginapan.

Terkait rantis, Kabag Ops Polres Malang Kompol Sunardi menyebut bahwa sejak awal pihaknya memang berkomitmen untuk menyediakan rantis. Hal itu dilakukan untuk menjaga risiko terburuk dalam perjalanan ke stadion yang harus dilalui Persebaya. Ditakutkan ada keributan atau intimidasi yang lain.

Lebih lanjut Kompol Sunardi menjelaskan, ada satu fakta yang membuat pihak kepolisian tetap  memilih menggunakan rantis. “Itu ada pada kecenderungan di media sosial. Beberapa hari sebelum pertandingan, beragam opini muncul di media sosial. Itu membuat situasi jelang pertandingan begitu tinggi. Ini rawan menyulut emosi massa. Padahal banyaknya medsos itu dikelola oleh anak-anak yang masih remaja alias labil level emosinya,” jelas Kompol Sunardi.

Inilah pemantiknya. Kecenderungan yang muncul di media sosial, telah menjadi salah satu pertimbangan bagi teknis pengamanan di jelang pertandingan derbi Jatim. Ketika media sosial atau warganet ramai mengulas peliknya laga derbi Jatim tersebut, mau tak mau tim pengaman menyiapkan antisipasi yang berbeda. Meskipun pada akhirnya fakta di lapangan justru bergulir normal.

“Kami berharap ke ini bisa menjadi pelajaran penting. Selama semua bisa dikoordinasikan dengan baik, ternyata tak ada indikasi teror dari kelompok atau suporter lawan. Sehingga ke depannya tak perlu lagi rantis dan cukup dengan bus,” harap Kompol Sunardi.

Layak dipertimbangkan. Melihat fakta yang terjadi, sudah sepantasnya kembali mempertimbangkan keberadaan rantis di laga derbi Jatim atau pertandingan lain yang dianggap rawan. Ingat, apa pun alasannya, rantis akan memunculkan psikologi yang berbeda di hadapan publik.

Novri Susan, sosiolog dari Universitas Airlangga menyebut rivalitas pendukung Arema dan Persebaya memang tinggi. Karena itu, pengelolaan konflik keduanya mutlak diperlukan dan diperhatikan oleh banyak pihak. Termasuk, dalam jangka panjang, mengevaluasi penggunaan rantis.

“Pertandingan sepak bola itu bukan perang. Ada psikologi massa yang harus ditelaah dengan serius. Sebab urusan bola itu dinamika ke depannya sangat banyak. Bisa mengarah ke aspek ekonomi atau yang lain. Dalam hal ini, mulai sekarang, social engineering-nya harus diperhatikan. Ujungnya rantis bisa tak diperlukan lagi dalam pengamanan sepak bola. Kembali pada kendaraan yang sewajarnya,” jelas Novri Susan.